LigaOrion – Manchester City harus menerima kekalahan pahit saat melakoni Derby Manchester di Old Trafford, Sabtu malam. Bertandang ke markas rival sekota, tim asuhan Pep Guardiola kalah 0-2 dari Manchester United dalam laga yang memperlihatkan perbedaan kesiapan kedua tim.
Bukan sekadar hasil akhir, cara City kehilangan kendali permainan justru menjadi sorotan utama. Manchester United tampil agresif, penuh energi, dan mampu mengontrol jalannya laga, sesuatu yang dalam beberapa musim terakhir justru identik dengan City.
Guardiola Beri Penilaian Langsung dan Keras

Usai pertandingan, Pep Guardiola tak mencoba berkelit. Ia mengakui secara terbuka bahwa timnya kalah dalam banyak aspek penting.
Menurut Guardiola, kekalahan ini bukan soal taktik semata, melainkan absennya kualitas kehadiran tim di lapangan. Bagi sang manajer, hadir dalam pertandingan berarti siap bertarung dalam duel, berani menguasai bola, dan mampu mengendalikan ritme permainan. Semua elemen itu, menurutnya, tidak terlihat dari Manchester City di laga ini.
United Dominan, City Kehilangan Identitas

Sejak menit awal, Manchester United tampil menekan dan membuat City kesulitan membangun serangan dari lini belakang. Intensitas tinggi tuan rumah memicu kesalahan-kesalahan kecil yang jarang terlihat dari tim Guardiola.
City gagal melakukan hal yang biasanya menjadi kekuatan utama mereka: meredam atmosfer stadion lewat penguasaan bola. Sebaliknya, Old Trafford justru semakin hidup seiring dominasi United.
Lini Belakang Muda Jadi Tantangan

Masalah City sudah terasa sejak susunan pemain diumumkan. Guardiola menurunkan duet bek tengah muda, Abdukodir Khusanov (21 tahun) dan Max Alleyne (20 tahun). Situasi makin rumit setelah Matheus Nunes absen akibat flu, memaksa perubahan rencana dengan memainkan Lewis.
Guardiola juga memilih Nathan Ake sebagai bek kiri, sebuah keputusan yang tampaknya bertujuan menyeimbangkan pergerakan Lewis yang kerap masuk ke lini tengah. Namun, strategi tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
United memanfaatkan tekanan tinggi untuk mengganggu distribusi bola City. Kontrol kurang sempurna dan umpan ceroboh muncul, termasuk dari pemain-pemain kunci seperti Rodri dan Bernardo Silva, yang biasanya menjadi penopang stabilitas permainan.
Serangan Tumpul dan Energi yang Hilang


Di lini depan, City juga kesulitan menciptakan ancaman berarti. Jeremy Doku dan Antoine Semenyo lebih sering menerima bola di area lebar tanpa dukungan optimal, membuat serangan mudah dipatahkan.
Absennya pola bek sayap agresif yang biasa membuka ruang di sepertiga akhir membuat City kehilangan ciri khas mereka. Aliran bola yang biasanya cepat dan rapi justru tersendat, memberi United kepercayaan diri untuk terus menekan.
Guardiola menegaskan bahwa United memiliki sesuatu yang tidak dimiliki timnya di laga ini: energi, ketajaman, dan keberanian dalam duel-duel krusial.
Sinyal Bahaya di Perburuan Gelar
Kekalahan ini menjadi sinyal peringatan bagi Manchester City. Tantangan dalam perburuan gelar liga kini terasa semakin berat, dan fokus realistis mulai bergeser ke kompetisi piala yang masih tersisa.
Namun, performa di Old Trafford juga menimbulkan pertanyaan besar: apakah penurunan energi dan intensitas ini bisa kembali muncul di laga-laga krusial lainnya?
Bagi Guardiola, kekalahan ini bukan sekadar derby yang hilang, melainkan cermin bahwa timnya harus segera menemukan kembali identitas dan mentalitas juara yang selama ini menjadi fondasi kesuksesan Manchester City.


