LIGAORION – Kekalahan 4-1 Manchester United dari Como di Liga Champions memunculkan pertanyaan mengenai taktik Manchester United. Kapten Bruno Fernandes menilai pendekatan tim yang tidak langsung menekan lawan secara man-to-man memberi Como keleluasaan menguasai bola dan membangun kepercayaan diri.
Fernandes menjelaskan bahwa United memilih menunggu lawan, sembari berusaha merebut bola pada momen yang tepat. Menurutnya, ketika terlalu banyak memberi bola kepada lawan, para pemain United bisa dibuat berlari dan frustrasi. Pernyataannya itu mengarahkan perhatian pada pola bertahan yang diterapkan manajer Michael Carrick.
Bagaimana pola bertahan United bekerja?
Sejak Carrick menangani United pada Januari, timnya kerap bertahan dalam susunan zonal 4-2-4 atau 4-4-2, lalu memulai tekanan pada momen tertentu. Dalam pola tersebut, United tidak selalu memburu pemain lawan di seluruh lapangan. Mereka menjaga bentuk tim lebih dalam, memberi bek lawan waktu menguasai bola, kemudian berusaha menjebak dan merebutnya.
Empat pemain yang berada di posisi lebih tinggi dan rapat di tengah diharapkan siap memanfaatkan bola hasil perebutan untuk menciptakan peluang. Pendekatan ini pernah berjalan baik pada masa Carrick menjadi pelatih sementara musim lalu. Salah satu contohnya adalah kemenangan 3-2 atas Arsenal pada Januari, ketika Bryan Mbeumo mencetak gol penyama kedudukan setelah United menemukan peluang dari situasi dua lawan dua.
Tim lawan mulai menemukan jawabannya
Namun, pendekatan yang sama disebut kurang efektif pada musim ini. Bek Lisandro Martinez juga menyoroti perubahan taktik dalam sepak bola dan mengingatkan bahwa tim lawan dapat mempelajari cara bermain sebuah tim. Menurutnya, bertahan dengan pendekatan yang sama tanpa perubahan bisa menjadi masalah pada musim berikutnya.
Contoh lain terlihat pada penggunaan formasi 4-2-4 oleh Manchester City. Pola tersebut ikut mendasari kemenangan mereka atas Arsenal di final Carabao Cup ketika Arsenal belum siap menghadapinya. Namun, saat Enzo Maresca memakai bentuk serupa bersama timnya di Community Shield pada Agustus, Arsenal mampu menemukan solusi dan menang. Dalam beberapa pertandingan, Maresca kemudian meninggalkan pola itu dan beralih ke pertahanan yang lebih man-to-man.
Arsenal mampu memanfaatkan area lebar untuk menciptakan keunggulan jumlah pemain di sekitar susunan 4-2-4 City, termasuk membuka ruang bagi pemain sayap. Perbandingan tersebut memperlihatkan tantangan bagi United: pola yang pernah memberi hasil dapat kehilangan efektivitas ketika lawan sudah mengenali cara menghadapinya. Kekalahan dari Como pun membuat pilihan taktik Carrick kembali menjadi bahan sorotan.
Ditulis oleh: LigaOrion.
Kredit gambar: TheGarvitGupta — Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).


