Ligaorion – Pelatih Tim Nasional Spanyol, Luis de la Fuente, angkat bicara soal sorotan berlebihan terhadap kehidupan pribadi Lamine Yamal. Ia menilai kritik yang menuding gaya hidup sang pemain terlalu mencolok tidaklah adil, terutama mengingat beban dan tekanan besar yang dipikul Yamal di level klub dan tim nasional.
Perdebatan mencuat setelah aktivitas perayaan Yamal di luar lapangan ramai diperbincangkan publik. Sebagian pihak mempertanyakan apakah cara ia menikmati waktu luang sejalan dengan tanggung jawabnya sebagai bintang muda Barcelona dan Spanyol.
Kerja Keras yang Jarang Terlihat Publik
Dalam wawancara dengan media nasional, De la Fuente menegaskan bahwa perhatian publik seharusnya tidak berhenti pada sisi personal pemain. Menurutnya, ada kerja keras dan disiplin luar biasa yang sering luput dari sorotan.
Ia menjelaskan bahwa standar profesional di level tertinggi menuntut pengorbanan fisik dan mental yang besar. Rutinitas Yamal disebut mencakup latihan intensif berjam-jam setiap hari, ditambah sesi dengan pelatih pribadi, psikolog, ahli gizi, hingga spesialis rehabilitasi. Semua itu dilakukan demi menjaga performa dan konsistensi di usia yang masih sangat muda.
De la Fuente juga menilai wajar bila, setelah melewati proses panjang tersebut, seorang pemain sesekali menikmati waktu santai. Baginya, itu adalah konsekuensi dari kerja keras, bukan bentuk kelalaian profesional.
Kedewasaan di Usia 18 Tahun
Pelatih Spanyol itu mengaku prihatin melihat Yamal kerap diperlakukan tidak adil oleh sebagian publik. Ia menilai sang pemain menunjukkan kedewasaan luar biasa dalam menghadapi tekanan dan kritik, meski baru menginjak usia 18 tahun.

Menurut De la Fuente, fokus berlebihan pada hal-hal seperti pesta, kepemilikan barang mewah, atau kehidupan asmara justru mengaburkan fakta utama: dedikasi dan pengorbanan besar yang dilakukan Yamal demi kariernya.
Target Besar Spanyol Menuju Piala Dunia 2026
Selain membela Yamal, De la Fuente juga menyinggung ambisi besar Spanyol menatap Piala Dunia 2026. Ia mengungkapkan bahwa tim pelatih berupaya membangun suasana kekeluargaan di dalam skuad agar para pemain mampu menghadapi tekanan eksternal.
Hubungan personal yang kuat diyakini membantu pemain-pemain kunci seperti Yamal, Dani Carvajal, dan Alvaro Morata melewati masa-masa sulit. Dengan meredam kebisingan dari luar, fokus tim tetap terjaga.

Setelah sukses di level Eropa, Spanyol kini disebut sebagai salah satu kandidat kuat di turnamen global mendatang. De la Fuente menerima label favorit tersebut dengan percaya diri, sembari mengakui ketatnya persaingan dari negara-negara besar dunia.
Bagi Spanyol, pesan sang pelatih jelas: lindungi pemain muda, hargai proses, dan jaga fokus menuju target utama.


