
LIGAORION– Kepergian Xabi Alonso dari kursi pelatih Real Madrid bukan sekadar menandai berakhirnya era singkat di Santiago Bernabéu. Lebih dari itu, Alonso meninggalkan sebuah catatan statistik yang tergolong langka dalam sejarah Los Blancos.
Pelatih asal Tolosa tersebut tercatat sebagai manajer Real Madrid pertama dalam kurun 16 tahun terakhir yang memimpin lebih dari 30 pertandingan tanpa mempersembahkan satu pun gelar juara. Kondisi ini terakhir kali dialami klub ibu kota Spanyol pada musim 2009/2010, saat Manuel Pellegrini harus angkat kaki meski mencatat perolehan poin tinggi di LaLiga.
Ekspektasi Tinggi, Realita Berbeda

Xabi Alonso datang ke Madrid dengan reputasi mentereng usai mencetak sejarah bersama Bayer Leverkusen. Ia diproyeksikan sebagai simbol regenerasi dan awal era baru Los Blancos. Namun, performa kompetitif yang ditunjukkan timnya tak mampu diterjemahkan menjadi prestasi konkret.
Real Madrid kerap tampil meyakinkan dalam sejumlah laga besar, tetapi kehilangan konsistensi pada momen-momen krusial, terutama di paruh kedua musim. Situasi ini menjadi ironi mengingat skuad Madrid dihuni pemain-pemain bintang dengan pengalaman juara di level tertinggi.
Statistik Meyakinkan, Tapi Tak Cukup di Bernabéu

Jika menilik angka semata, performa Alonso sebenarnya tergolong impresif. Ia mencatatkan persentase kemenangan mencapai 70,6 persen di semua kompetisi. Catatan tersebut sejajar dengan beberapa nama bersejarah di Madrid dan hanya sedikit berada di bawah Carlo Ancelotti.
Bahkan, statistik tersebut menempatkan Xabi Alonso dalam jajaran enam besar pelatih Real Madrid dengan rasio kemenangan terbaik sepanjang masa. Namun, di klub dengan DNA juara sekuat Madrid, statistik bukanlah segalanya.
Trofi Tetap Jadi Ukuran Utama

Sejarah Real Madrid menunjukkan satu pola yang konsisten: trofi adalah tolok ukur utama keberhasilan. Klub ini hampir selalu menutup musim dengan setidaknya satu gelar, baik di kompetisi domestik maupun Eropa.
Ketika gelar tak kunjung datang, seberapa pun solidnya data kemenangan, posisi pelatih akan selalu berada dalam tekanan. Xabi Alonso pun kini menjadi contoh terbaru bahwa di Santiago Bernabéu, hasil akhir lebih penting dari proses.
Kepergiannya menegaskan satu pesan klasik di Real Madrid: menang banyak itu penting, tetapi tanpa trofi, semua bisa berakhir lebih cepat dari yang dibayangkan.


